MERAJUT UKHUWAH YANG HAMPIR PUNAH
Sabtu, 26 September 2009 19:00:24 - oleh : admin
MERAJUT UKHUWAH YANG HAMPIR PUNAH
MENEBAR KASIH SAYANG YANG HAMPIR HILANG
Khotbah Iedul Fitri 1430 H Oleh: Drs. H.M. Munawar Qomari

Ma'aasyiral
mukminiin, rahimakullaah;
Alhamdulillah,
puja-puji dan syukur kami haturkan ke hadirat Allah SWT yang telah mencurahkan
kasih sayangnya kepada kita semua, salah satunya kita ditaqdirkan untuk dapat
berkumpul di tempat ini setelah semalam suntuk kita lafadzkan takbir, tahlil,
dan tahmid, mengagungkan nama Allah, "Allaahu Akbar Walillaahilhamd".
Kali
ini kita tinggalkan sebentar segala status dan identitas kemanusiaan kita,
kecuali identitas yang dianugerahkan oleh Allah SWT, yakni " Manusia yang
beriman" . Karenanya tidak kita bedakan si kaya dengan si miskin,
atasan dengan bawahan, direktur dengan karyawan, sipil dengan militer dan
seterusnya, semuanya sama, tidak ada bedanya, kecuali nilai iman dan taqwanya.
Hadirin yang mulia;
Takdir,
tahlil dan tahmid yamh kita ucapkan, tentu diikuti dengan rasa gembira dan
bahagia, karena baru saja kita dapat melalui masa selama sebulan bergelut
mengendalikan hawa nafsu, melawan godaan syaitan, dan kita berharap semoga
dimasukkan oleh Allah sebagai para pemenang.
Allaahu Akbar, Walillaahilhamd;
Hari
ini adalah hari bahagia, sebab hari ini juga merupakan hari keluarga,
berkumpulnya anak dan orang tua, begitu juga sanak family dan handai taulan,
mungkin mereka ada yang dating dari tempat yang jauh, yang untuk menyiapkan
keperluan perjalanannya itu tak sedikit
diantara mereka yang telah menabung selama setahun, kemudian mereka berangkat
penuh semangat menempuhperjalanan yang melelahkan dan rela berdesak-desakan di
atas kendaraan asal bias sampai tanah kelahiran, dengan tujuan yang amat mulia,
yakni bersilahturrahim, mempererat tali persaudaraan dan persahabatan,
sekaligus saling mema'afkan.
Upaya
untuk senantiasa mempererat tali kekeluargaan dan persahabayan yang penuh kasih
sayang, memang sangat penting dan sangat diperlukan, lebih-lebih baru saja
bangsa kita menyelenggarakan kerja besar yakni PEMILU yang diikuti banyak
kontestan, yang ikut memperebutkan kue kekuasaan.
Saat
kerja besar itu dilaksanakan, tidak jarang hubungan silahturrahim dan persaudaraan serta
persahabatan agak terganggu, bahkan bias nyaris hilang, karena digerogoti oleh
berbagai kepentingan, utamanya dalam persaingan merebut kemenangan.
Disamping itu akhir-akhir ini watak bangsa kitajuga mulai menunjukkan
kecenderungan mengalami perubahan, yakni tidak sedikit yang semakin keras dan
kasar. Gambaran menmgenai watak bangsa kita sebagaimana yang dahulu sering
disampaikan oleh nenek moyang kita bahwa bangsa kita adalah bangsa yang ramah,
santun dan penuh senyuman, nampakny a sekarang sudah tidak mudah ditemukan,
justru tidak sedikit diantara mereka yamh sering terjebak pada sikap
nafsi-nafsi, mementingkan diri sendiri, ketamakan dan keserakahan, sehingga
semakin hari semakain jauh dari rasa saling mengasihi, dan akibatnya bias
diduga, yakni semakin semakin banyaknya terjadi perselisihan dan pertengkaran
yang tidak jarang sampai menelan banyak korban.
Boleh
jadi maraknya peredaran minuman keras serta filem-filem murahan yang
menggambarkan cerita balas dendam, kekerasan dan kebrutalan, telah banyak
berpengaruh merubah kepribadian sebahagian anak bangsa, sehingga tidak sedikit
di antara mereka yang mudah tersinggung, keras, kasar dan brutal, dan akibatnya
bahwa salah satu kebiasaan bersilaturrahim yang sangat mulia itu kini telah
semakin terjauh dari kita.
Sebagai
bangsa yang beriman, tentu kita risi melihat keadaan seperti ini, dan
secepatnya kita harus melakukan perubahan atau setidak-tidaknya pencegahan.
Lalu pertanyaan dari mana kita harus memulainya? Suatu pertanyaan yang ternyata
tidak gampang dicarikan jawaban.
Namun
jika kita mau menyadari, sebenarnya telah ada resep dari Nabi, yakni "Ibdak
binafsik", Mulailah dari dirimu sendiri!
Memang
jika resep sederhana ini dapat kita wujudkan, maka tentu banyak persoalan anak
bangsa yang akan dapat kita carikan jalan pemecahan. Maka senyampang kini kita di hari Idul Fitri, hari kembalinya
kita dalam kesucian, maka mari kita mulai pekerjaan mulia dari diri sendiri,
dari lingkungan keluarga kita sendiri, dan dari lingkungan masyarakat kita
sendiri.
Kita
budayakan untuk lebih banyak menuntut diri sendiri melakukan perubahan menuju
kebaikan, sebelum kita mengajak dan menganjurkan orang lain merubah keadaan.
Sungguh
jika setiap diri mau melakukan resep ini, maka dengan tidak terasa akan terjadi
sebuah revolusi besar, perubahan menuju kebaikan, tyanpa harus menelan korban.
Mari
kita menggali contoh tauladan, kenapa Rasulullah SAW dalam waktu relative
singkat bisa merubah masyarakat Arab
jahiliyah yang kesehariannya penuh kekasaran, kekerasan dan gemar akan
perselisihan serta pertengkaran, bisa
menjadi masyarakat yang beriman, penuh persaudaraan dan kasih sayang?
Al-Qur'an
mengungkapkan kunci sukses Rasulullah SAW
dengan menerangkannya demikian:

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu
berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati
kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu
ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan
mereka daam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka
bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang
bertawakkal kepadaNya" (Q.S. Ali Imron: 159).
Pendekatan
penuh kelemah lembutan dan kasih saying ternyata telah menghantarkan Rasulullah
SAW, pada puncak kesuksesan, maka sikap ini pulalah yang dianjurkan untuk
ummatnya:

"Jangan kau remehkan kebaikan itu, walaupun
hanya sekedar menyambut saudaramu dengan muka yang manis" (Hadits riwayat
Muslim).
Sikap
lembut hati penuh kasih saying inilah yang senantiasa dilakukan oleh Nabi dalam
kehidupannya sehari-hari.
Coba
kita simak dan perhatikan bagaimana sikap beliau ketika menyambut tamunya, Zaid
bin Haritsah yang bekas budak hitam itu, sebagaimana yang dituturkan oleh
Aisyah berikut ini:


"Aisyah berkata:"Zaid bin Haritsah dating ke
kota Madinah, sedang Rasulullah SAW. Berada di rumahku, kemudian Zaid mengetuk
pintu, maka Nabi-pun segera bangun menyambutnya dengan menyeret kainnya,
kemudian mendekap dan memeluknya" (Hadits riwayat At Turmu
dzi).
Dengan bergegas disekap dan dipeluknya si bekas
budak hitam itu dengan penuh keramahan dan kasih sayang tanpa kecanggungan,
karena semua itu telah menjadi suatu kepribadian.
Sikap
penuh perhatian dan kasih sayang seperti
ini tidak hanya ditujukan kepada yang telah dewasa seperti Zaid. Kepada
anak-anak kecilpun beliau tidak membedakannya. Dalam hal ini Abu Hurairah
menceritakan kepada kita bagaimana perhatian Nabi kepada cucunya Hasan bin Ali:

"Abu Hurairah berkata: "Nabi SAW mencium
cucunya (Hasan bin Ali) tiba-tiba Al Aq'ro' bin Habis berkata: "Saya telah mempunyai
sepuluh anak, belum pernah saya mencium seorangpun dari mereka", maka Nabi
bersabda: "Siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayangi" (Hadits
riwayat Bukhari & Muslim).
Sikap
lembut hati seperti ini bahkan juga beliau lakukan justru kepada musuhnya yang
telah menyerah kalah, sebagaimana dalam peritiwa pembukaan Kota Makkah (Fathul
Makkah). Abu Sofyan dan seluruh penduduk Makkah diberi pengampunan masal, saat
itu tidak ada balas dendam, bahkan tidak ada sedikitpun darah yang tertumpah,
sehingga peristiwa bersejarah ini berakhir dengan kebahagiaan, sebab yang telah
menyerah kalahpun diberi penghargaan dan tidak direndahkan, akhirnya mereka
semuanya masuk Islam.
Hadirin Rahimakumullah;
Pentingnya mengulurkan tangan perdamaian,
memererat tali persaudaraan dan menebarkan kasih sayang, sampai-sampai oleh
Nabi ditempatkan sebagai bukti realisasi Iman:

"Dari Abu Hurairah r.a. berkata: "Bersabdalah
Rasulullah SAW: "Kamu tidak akan masuk sorga sehingga beriman, dan kamu
dianggap belum beriman sehingga mewujudkan saling kasih sayang diantara kalian. Dan maukah engkau tunjukkan sesuatu yang jika kamu
kerjakan akan timbul kasih sayang di antara kalian? Sebarkan salam di antara
kalian" (Hadits riwayat Muslim).
Hadirin yang mulia;
Itulah
contoh teladan yang telah diberikan Nabi Muhammad SAW, tinggal terserah kepada
kita sekarang maukah merealisasikannya dalam kehidupan. Dan kalau kita
berkehendak untuk merealisasikannya, maka sekali lagio pertanyaanya..... dari
mana sebaiknya kita memulainya?
Sebaiknya
kita mulai menebarkan kasih saying dari dalam keluarga kita telah mendapatkan
curahan kasih saying dari orang tua kita, mereka telah banyak berkorban, untuk
membesarkan kita. Waktu, tenaga, pikiran dan bahkan seluruh kemampuannya telah
dikerahkan untuk merawat dan mendidik kita. Mereka berkorban karena kasih
saying, bukan karena mengharap balasan.
Sekalipun
mereka tidak mengharapkan balasan dari kita, tetapi sebagai anak yang baik
semestinya kita memberikan perhatian
kepada mereka, lebih-lebih jika mereka telah memulai memasuki masa-masa
udhurnya.
Kita
harus merasa bahwa masih terlalu sedikit yang telah kita berikan kepada mereka,
jika dibanding dengan kasih sayang
yang telah mereka curahkan.
Dalam suatu hadits, diterangkan kepada kita kisah
seorang anak yang memberikan perhatian begitu baiknya kepada orangtuanya:
"Seorang sahabat menghadap Rasulullah SAW dan
berkata: "Ya Rasulullah, saya punya ibu yang sudah tua. Setiap hari saya jaga
dan perhatikan segala keperluannya. Setiap kali mau pergi, saya usahakan agar
saya sendiri yang menggendongnya. Tak pernah saya bermasam budi kepadanya.
Segala usaha dan penhasilanku kuserahkan kepadanya. Apakah saya telah dapat
membalas budi kebaikannya?" Rasulullah menjawab: "Belum! "Sahabat itu bertanya
lagi:"Apa sebabnya ya Rasulullah?" Nabi menjawab "Ibumu memeliharamu dengan
harapan agar engkau panjang umur, sedang engkau sendiri menjaga dan merawat
ibumu dengan harapan agar ibumu segera meninggal" (Hadits riwayat Abu Hasal
Al-Mawardi).
Luar
biasa kebaikan yang telah dilakukan si pemuda itu kepada ibunya, tetapi
ternyata masih belum sepadan jika dibandingkan dengan curahan kasih saying yang
telah diberikan ibunya kepadanya. Lalu bagaimana dengan kita?
Ingatlah
kasus Al Qomah, orang yang ta'at beribadah, tetapi saat menjelang wafatnya ia
tidak dapat mengucapkan kalimah "Laa ilaaha illallaah". Dan ternyata setelah
didatangan Rasulullah, ditemukanlah sebabnya yakni karena ada sedikit mis
komunikasi dengan ibunya. Dan baru setelah sang ibu memaafkannya, ia dapat
mengucapkan kalimah tahlil itu, dan lalu ajal menjemputnya dalam keadaan
khusnul khotimah.
Hadirin Rahimakumullah;
Begitu
pulalah kasih sayang harus ditebarkan
kepada semua ummat manusia, baik keluarga maupun lainnya, sebab tersebarnya
kasih sayang akan sangat mengurangi ketegangan, perselisihan dan permusuhan.
Dan jika ketegangan, perselisihan dan permusuhan dapat dikurangi, maka
ketentraman dan kedamaian yang akan diraih penduduk negeri ini. Tetapi
sebaliknya jika rasa kasih sayang, persahabatan dan persaudaraan telah hilang,
yang akan terjadi adalah semakin meluasnya permusuhan, dan buahnya adalah
kehancuran. Dan bila yang terjadi adalah kehancuran, maka kita ummat Islamlah
yang paling merasakan.
Nah....
Kini tugas kitalah untuk mewujudkan ukhuwah dan menebarkan kasih saying sesame
insan.
Untuk
itu, jika mereka yang diberi amanah Allah memegang kendali kekuasaan ingin
tampil mempelopori terwujudnya upaya
mulia ini, haruslah memulainya dengan Keteladanan, Kejujuran dan Keadilan. Sebab jika tiga hal ini tidak ada pada diri
mereka, maka yang akan muncul adalah Kecurigaan, Fitnah dan Pergunjingan.
Untuk
urusan Keteladanan, Kejujuran dan Keadilan, maka contoh terbaik adalah apa yang
dilaksanakan maupun yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Tetapi jika kita ingin
referensi lain sesuai dengan kedudukan kita sebagai manusia biasa, maka apa
yang telah dilakukan oleh Umar bin Khottob ketika memegang tampuk kekhalifahan
kiranya dapat dijadikan sebagai bahan kajian.
Suatu
ketika Umar pernah menyudut di ruang kosong, merenung dan berfikir, tiba-tiba
masuklah Huzaifah dan melihat Umar sedang resah dan matanya basah oleh
tangisnya sendiri.
Huzaifah bertanya:
"Apa yang sedang terjadi wahai Amirul Mu'minin?
"Aku takut berbuat salah dan tak seorangpun
yang menegurku karena hormatnya kepadaku" kata Umar.
"Demi Allahkalau kulihat engkau menyimpang dari
kebenaran, akan kuluruskan" kata Huzaifah.
Mendengar ucapan Huzaifah itu wajah Umar
berseri-seri lalu berkata:
"Alhamulillah, Allah telah menjadikan untukku
sahabat yang akan meluruskan bila aku menyeleweng"
Itulah
pribadi yang sangat mengesankan. Kejujuran dan dalam memimpin
ummat telah menjadi teladan, sehingga rakyatnya menaruh hormat
dan kepercayaan, dan setiap ajakannya untuk menuju kebaikan disambut dengan
penuh keikhlasan, sehingga kehidupan masyarakat yang penuh ukhuwwah dan kasih sayang
yang terbina sejak zaman Rasulullah SAW dan Abu Bakar As Siddiq bisa beliau
lanjutkan.
Akhirnya
marilah kita berdo'a kepada Allah SWT memohon ampunan dan pertolongan:
- "Ya
Allah, Penguasa Alam Semesta. Hari ini kami dating bersimpuh di hadapanMu,
memohon ampun atas segala khilaf dan kesalahan, karena kami tahu Engkaulah Sang Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang".
- "Ya
Allah, jadikan kami sebagai insan yang mampu bersabar menghadapi segala ujian
dan problematika kehidupan. Dan jadikan kami insan yang mampu menebarkan kasih sayang
sehingga bias mewujudkan kehidupan yang damai penuh iman dan ketaqwaan"
- "Ya
Alla, terimalah shalat kami, puasa kami, zakat kami, dan seluruh amal ibadah
kami, sebagai amalan yang Engkau ridhoi"
- "Ya,
Allah, ampuni pula dosa kam, dosa orang tua kami, dan dosa seluruh isi rumah
tangga kami, dan jadikan kami dan mereka ahli sorga semuanya".
- Ya
Allah, kabulkanlah do'a kami, aamiin yaa Robbal aalamiin".
Banyuwangi, 1 Syawal 1430 H.
M. Munawar Qomari
Berita "Agama" Lainnya
MERAJUT UKHUWAH YANG HAMPIR PUNAH
MENEBAR KASIH SAYANG YANG HAMPIR HILANG
Khotbah Iedul Fitri 1430 H Oleh: Drs. H.M. Munawar Qomari

Ma'aasyiral mukminiin, rahimakullaah;
Alhamdulillah, puja-puji dan syukur kami haturkan ke hadirat Allah SWT yang telah mencurahkan kasih sayangnya kepada kita semua, salah satunya kita ditaqdirkan untuk dapat berkumpul di tempat ini setelah semalam suntuk kita lafadzkan takbir, tahlil, dan tahmid, mengagungkan nama Allah, "Allaahu Akbar Walillaahilhamd".
Kali ini kita tinggalkan sebentar segala status dan identitas kemanusiaan kita, kecuali identitas yang dianugerahkan oleh Allah SWT, yakni " Manusia yang beriman" . Karenanya tidak kita bedakan si kaya dengan si miskin, atasan dengan bawahan, direktur dengan karyawan, sipil dengan militer dan seterusnya, semuanya sama, tidak ada bedanya, kecuali nilai iman dan taqwanya.
Hadirin yang mulia;
Takdir, tahlil dan tahmid yamh kita ucapkan, tentu diikuti dengan rasa gembira dan bahagia, karena baru saja kita dapat melalui masa selama sebulan bergelut mengendalikan hawa nafsu, melawan godaan syaitan, dan kita berharap semoga dimasukkan oleh Allah sebagai para pemenang.
Allaahu Akbar, Walillaahilhamd;
Hari ini adalah hari bahagia, sebab hari ini juga merupakan hari keluarga, berkumpulnya anak dan orang tua, begitu juga sanak family dan handai taulan, mungkin mereka ada yang dating dari tempat yang jauh, yang untuk menyiapkan keperluan perjalanannya itu tak sedikit diantara mereka yang telah menabung selama setahun, kemudian mereka berangkat penuh semangat menempuhperjalanan yang melelahkan dan rela berdesak-desakan di atas kendaraan asal bias sampai tanah kelahiran, dengan tujuan yang amat mulia, yakni bersilahturrahim, mempererat tali persaudaraan dan persahabatan, sekaligus saling mema'afkan.
Upaya untuk senantiasa mempererat tali kekeluargaan dan persahabayan yang penuh kasih sayang, memang sangat penting dan sangat diperlukan, lebih-lebih baru saja bangsa kita menyelenggarakan kerja besar yakni PEMILU yang diikuti banyak kontestan, yang ikut memperebutkan kue kekuasaan.
Saat kerja besar itu dilaksanakan, tidak jarang hubungan silahturrahim dan persaudaraan serta persahabatan agak terganggu, bahkan bias nyaris hilang, karena digerogoti oleh berbagai kepentingan, utamanya dalam persaingan merebut kemenangan.
Disamping itu akhir-akhir ini watak bangsa kitajuga mulai menunjukkan kecenderungan mengalami perubahan, yakni tidak sedikit yang semakin keras dan kasar. Gambaran menmgenai watak bangsa kita sebagaimana yang dahulu sering disampaikan oleh nenek moyang kita bahwa bangsa kita adalah bangsa yang ramah, santun dan penuh senyuman, nampakny a sekarang sudah tidak mudah ditemukan, justru tidak sedikit diantara mereka yamh sering terjebak pada sikap nafsi-nafsi, mementingkan diri sendiri, ketamakan dan keserakahan, sehingga semakin hari semakain jauh dari rasa saling mengasihi, dan akibatnya bias diduga, yakni semakin semakin banyaknya terjadi perselisihan dan pertengkaran yang tidak jarang sampai menelan banyak korban.
Boleh jadi maraknya peredaran minuman keras serta filem-filem murahan yang menggambarkan cerita balas dendam, kekerasan dan kebrutalan, telah banyak berpengaruh merubah kepribadian sebahagian anak bangsa, sehingga tidak sedikit di antara mereka yang mudah tersinggung, keras, kasar dan brutal, dan akibatnya bahwa salah satu kebiasaan bersilaturrahim yang sangat mulia itu kini telah semakin terjauh dari kita.
Sebagai bangsa yang beriman, tentu kita risi melihat keadaan seperti ini, dan secepatnya kita harus melakukan perubahan atau setidak-tidaknya pencegahan. Lalu pertanyaan dari mana kita harus memulainya? Suatu pertanyaan yang ternyata tidak gampang dicarikan jawaban.
Namun jika kita mau menyadari, sebenarnya telah ada resep dari Nabi, yakni "Ibdak binafsik", Mulailah dari dirimu sendiri!
Memang jika resep sederhana ini dapat kita wujudkan, maka tentu banyak persoalan anak bangsa yang akan dapat kita carikan jalan pemecahan. Maka senyampang kini kita di hari Idul Fitri, hari kembalinya kita dalam kesucian, maka mari kita mulai pekerjaan mulia dari diri sendiri, dari lingkungan keluarga kita sendiri, dan dari lingkungan masyarakat kita sendiri.
Kita budayakan untuk lebih banyak menuntut diri sendiri melakukan perubahan menuju kebaikan, sebelum kita mengajak dan menganjurkan orang lain merubah keadaan.
Sungguh jika setiap diri mau melakukan resep ini, maka dengan tidak terasa akan terjadi sebuah revolusi besar, perubahan menuju kebaikan, tyanpa harus menelan korban.
Mari kita menggali contoh tauladan, kenapa Rasulullah SAW dalam waktu relative singkat bisa merubah masyarakat Arab jahiliyah yang kesehariannya penuh kekasaran, kekerasan dan gemar akan perselisihan serta pertengkaran, bisa menjadi masyarakat yang beriman, penuh persaudaraan dan kasih sayang?
Al-Qur'an mengungkapkan kunci sukses Rasulullah SAW dengan menerangkannya demikian:

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka dan bermusyawarahlah dengan mereka daam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya" (Q.S. Ali Imron: 159).
Pendekatan penuh kelemah lembutan dan kasih saying ternyata telah menghantarkan Rasulullah SAW, pada puncak kesuksesan, maka sikap ini pulalah yang dianjurkan untuk ummatnya:

"Jangan kau remehkan kebaikan itu, walaupun hanya sekedar menyambut saudaramu dengan muka yang manis" (Hadits riwayat Muslim).
Sikap lembut hati penuh kasih saying inilah yang senantiasa dilakukan oleh Nabi dalam kehidupannya sehari-hari.
Coba kita simak dan perhatikan bagaimana sikap beliau ketika menyambut tamunya, Zaid bin Haritsah yang bekas budak hitam itu, sebagaimana yang dituturkan oleh Aisyah berikut ini:

![]()
"Aisyah berkata:"Zaid bin Haritsah dating ke kota Madinah, sedang Rasulullah SAW. Berada di rumahku, kemudian Zaid mengetuk pintu, maka Nabi-pun segera bangun menyambutnya dengan menyeret kainnya, kemudian mendekap dan memeluknya" (Hadits riwayat At Turmu
dzi).
Dengan bergegas disekap dan dipeluknya si bekas budak hitam itu dengan penuh keramahan dan kasih sayang tanpa kecanggungan, karena semua itu telah menjadi suatu kepribadian.
Sikap penuh perhatian dan kasih sayang seperti ini tidak hanya ditujukan kepada yang telah dewasa seperti Zaid. Kepada anak-anak kecilpun beliau tidak membedakannya. Dalam hal ini Abu Hurairah menceritakan kepada kita bagaimana perhatian Nabi kepada cucunya Hasan bin Ali:

"Abu Hurairah berkata: "Nabi SAW mencium cucunya (Hasan bin Ali) tiba-tiba Al Aq'ro' bin Habis berkata: "Saya telah mempunyai sepuluh anak, belum pernah saya mencium seorangpun dari mereka", maka Nabi bersabda: "Siapa yang tidak menyayangi maka tidak akan disayangi" (Hadits riwayat Bukhari & Muslim).
Sikap lembut hati seperti ini bahkan juga beliau lakukan justru kepada musuhnya yang telah menyerah kalah, sebagaimana dalam peritiwa pembukaan Kota Makkah (Fathul Makkah). Abu Sofyan dan seluruh penduduk Makkah diberi pengampunan masal, saat itu tidak ada balas dendam, bahkan tidak ada sedikitpun darah yang tertumpah, sehingga peristiwa bersejarah ini berakhir dengan kebahagiaan, sebab yang telah menyerah kalahpun diberi penghargaan dan tidak direndahkan, akhirnya mereka semuanya masuk Islam.
Hadirin Rahimakumullah;
Pentingnya mengulurkan tangan perdamaian, memererat tali persaudaraan dan menebarkan kasih sayang, sampai-sampai oleh Nabi ditempatkan sebagai bukti realisasi Iman:

"Dari Abu Hurairah r.a. berkata: "Bersabdalah Rasulullah SAW: "Kamu tidak akan masuk sorga sehingga beriman, dan kamu dianggap belum beriman sehingga mewujudkan saling kasih sayang diantara kalian. Dan maukah engkau tunjukkan sesuatu yang jika kamu kerjakan akan timbul kasih sayang di antara kalian? Sebarkan salam di antara kalian" (Hadits riwayat Muslim).
Hadirin yang mulia;
Itulah contoh teladan yang telah diberikan Nabi Muhammad SAW, tinggal terserah kepada kita sekarang maukah merealisasikannya dalam kehidupan. Dan kalau kita berkehendak untuk merealisasikannya, maka sekali lagio pertanyaanya..... dari mana sebaiknya kita memulainya?
Sebaiknya kita mulai menebarkan kasih saying dari dalam keluarga kita telah mendapatkan curahan kasih saying dari orang tua kita, mereka telah banyak berkorban, untuk membesarkan kita. Waktu, tenaga, pikiran dan bahkan seluruh kemampuannya telah dikerahkan untuk merawat dan mendidik kita. Mereka berkorban karena kasih saying, bukan karena mengharap balasan.
Sekalipun mereka tidak mengharapkan balasan dari kita, tetapi sebagai anak yang baik semestinya kita memberikan perhatian kepada mereka, lebih-lebih jika mereka telah memulai memasuki masa-masa udhurnya.
Kita harus merasa bahwa masih terlalu sedikit yang telah kita berikan kepada mereka, jika dibanding dengan kasih sayang yang telah mereka curahkan.
Dalam suatu hadits, diterangkan kepada kita kisah seorang anak yang memberikan perhatian begitu baiknya kepada orangtuanya:
"Seorang sahabat menghadap Rasulullah SAW dan berkata: "Ya Rasulullah, saya punya ibu yang sudah tua. Setiap hari saya jaga dan perhatikan segala keperluannya. Setiap kali mau pergi, saya usahakan agar saya sendiri yang menggendongnya. Tak pernah saya bermasam budi kepadanya. Segala usaha dan penhasilanku kuserahkan kepadanya. Apakah saya telah dapat membalas budi kebaikannya?" Rasulullah menjawab: "Belum! "Sahabat itu bertanya lagi:"Apa sebabnya ya Rasulullah?" Nabi menjawab "Ibumu memeliharamu dengan harapan agar engkau panjang umur, sedang engkau sendiri menjaga dan merawat ibumu dengan harapan agar ibumu segera meninggal" (Hadits riwayat Abu Hasal Al-Mawardi).
Luar biasa kebaikan yang telah dilakukan si pemuda itu kepada ibunya, tetapi ternyata masih belum sepadan jika dibandingkan dengan curahan kasih saying yang telah diberikan ibunya kepadanya. Lalu bagaimana dengan kita?
Ingatlah kasus Al Qomah, orang yang ta'at beribadah, tetapi saat menjelang wafatnya ia tidak dapat mengucapkan kalimah "Laa ilaaha illallaah". Dan ternyata setelah didatangan Rasulullah, ditemukanlah sebabnya yakni karena ada sedikit mis komunikasi dengan ibunya. Dan baru setelah sang ibu memaafkannya, ia dapat mengucapkan kalimah tahlil itu, dan lalu ajal menjemputnya dalam keadaan khusnul khotimah.
Hadirin Rahimakumullah;
Begitu pulalah kasih sayang harus ditebarkan kepada semua ummat manusia, baik keluarga maupun lainnya, sebab tersebarnya kasih sayang akan sangat mengurangi ketegangan, perselisihan dan permusuhan. Dan jika ketegangan, perselisihan dan permusuhan dapat dikurangi, maka ketentraman dan kedamaian yang akan diraih penduduk negeri ini. Tetapi sebaliknya jika rasa kasih sayang, persahabatan dan persaudaraan telah hilang, yang akan terjadi adalah semakin meluasnya permusuhan, dan buahnya adalah kehancuran. Dan bila yang terjadi adalah kehancuran, maka kita ummat Islamlah yang paling merasakan.
Nah.... Kini tugas kitalah untuk mewujudkan ukhuwah dan menebarkan kasih saying sesame insan.
Untuk itu, jika mereka yang diberi amanah Allah memegang kendali kekuasaan ingin tampil mempelopori terwujudnya upaya mulia ini, haruslah memulainya dengan Keteladanan, Kejujuran dan Keadilan. Sebab jika tiga hal ini tidak ada pada diri mereka, maka yang akan muncul adalah Kecurigaan, Fitnah dan Pergunjingan.
Untuk urusan Keteladanan, Kejujuran dan Keadilan, maka contoh terbaik adalah apa yang dilaksanakan maupun yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Tetapi jika kita ingin referensi lain sesuai dengan kedudukan kita sebagai manusia biasa, maka apa yang telah dilakukan oleh Umar bin Khottob ketika memegang tampuk kekhalifahan kiranya dapat dijadikan sebagai bahan kajian.
Suatu ketika Umar pernah menyudut di ruang kosong, merenung dan berfikir, tiba-tiba masuklah Huzaifah dan melihat Umar sedang resah dan matanya basah oleh tangisnya sendiri.
Huzaifah bertanya:
"Apa yang sedang terjadi wahai Amirul Mu'minin?
"Aku takut berbuat salah dan tak seorangpun yang menegurku karena hormatnya kepadaku" kata Umar.
"Demi Allahkalau kulihat engkau menyimpang dari kebenaran, akan kuluruskan" kata Huzaifah.
Mendengar ucapan Huzaifah itu wajah Umar berseri-seri lalu berkata:
"Alhamulillah, Allah telah menjadikan untukku sahabat yang akan meluruskan bila aku menyeleweng"
Itulah pribadi yang sangat mengesankan. Kejujuran dan dalam memimpin ummat telah menjadi teladan, sehingga rakyatnya menaruh hormat dan kepercayaan, dan setiap ajakannya untuk menuju kebaikan disambut dengan penuh keikhlasan, sehingga kehidupan masyarakat yang penuh ukhuwwah dan kasih sayang yang terbina sejak zaman Rasulullah SAW dan Abu Bakar As Siddiq bisa beliau lanjutkan.
Akhirnya marilah kita berdo'a kepada Allah SWT memohon ampunan dan pertolongan:
- "Ya Allah, Penguasa Alam Semesta. Hari ini kami dating bersimpuh di hadapanMu, memohon ampun atas segala khilaf dan kesalahan, karena kami tahu Engkaulah Sang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang".
- "Ya Allah, jadikan kami sebagai insan yang mampu bersabar menghadapi segala ujian dan problematika kehidupan. Dan jadikan kami insan yang mampu menebarkan kasih sayang sehingga bias mewujudkan kehidupan yang damai penuh iman dan ketaqwaan"
- "Ya Alla, terimalah shalat kami, puasa kami, zakat kami, dan seluruh amal ibadah kami, sebagai amalan yang Engkau ridhoi"
- "Ya, Allah, ampuni pula dosa kam, dosa orang tua kami, dan dosa seluruh isi rumah tangga kami, dan jadikan kami dan mereka ahli sorga semuanya".
- Ya Allah, kabulkanlah do'a kami, aamiin yaa Robbal aalamiin".
Banyuwangi, 1 Syawal 1430 H.
M. Munawar Qomari

Home
Kontak Kami
Link Web
