RAHASIA MENGUNDANG NIKMAT ALLAH

Sabtu, 18 Juli 2009 11:34:01 - oleh : admin

RAHASIA MENGUNDANG NIKMAT ALLAH

Oleh : Hariri

Kita bersyukur kepada Allah yang telah  mengkaruniai kita hati yang bersih sehingga bisa menangkap hikmah di balik kejadian apapun yang kita rasa dan saksikan,  penderitaan dalam hidup bukan karena kejadian yang menimpa tapi karena hati ini tertutup dari hikmah atau bahkan kita tidak pernah mau bersyukur kepada Allah terhadap semua nikmat yang diberikan,  hati ini selalu dipenuhi dengan penyakit yang kita sendiri tidak mau untuk mengobatinya, sedangkan badan kita enggan untuk bergerak melakukan kebaikan. Allah menakdirkan apapun dengan Maha Cermat, tidak pernah mendzolimi makhluk-makhlukNya, kita sengsara karena kita yang mendzolimi diri kita sendiri. Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat Allah, sesungguhnya ia telah membuka jalan hilangnya nikmat dari dirinya. Akan tetapi siapa yang mensyukuri nikmat Allah, maka sesungguhnya manusia itu telah memberi ikatan yang kuat pada kenikmatan Allah itu. Allah berfirman :

 

Artinya : Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari, Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".(QS. 14 ; 7)

 

Artinya : Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, Maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kamu ditimpa oleh kemudharatan, Maka hanya kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.(QS . 16 ; 53)

 

Artinya : Dan terhadap Nikmat Tuhan-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur) (QS . 93 ; 11)  (diambil dari kitab Al Hikam ; Syekh Ahmad Atailah)

Berdasarkan ayat tersebut di atas sesungguhnya setiap nikmat itu menjadi pembuka atau penutup pintu nikmat lainnya, kita sering menginginkan nikmat padahal rahasia yang bisa mengundang nikmat adalah syukur atas nikmat yang kita terima walaupun kecil, jangan kita lepaskan nikmat yang besar dengan tidak mensyukuri nikmat yang kecil. Tidak usah risau terhadap nikmat yang belum ada, justru risaulah dengan nikmat yang ada tidak disyukuri, Allah sudah berjanji kepada kita dengan janji yang pasti ditepati seperti ayat tersebut di atas. (QS. 14 ; 7)

Janganlah kita sengsara oleh nikmat yang belum ada, lebih baik bagaimana yang ada bisa disyukuri, sayangnya kalau kita mendengar kata syukuran itu yang terbayang hanya makanan, padahal syukuran itu adalah bentuk amal yang dahsyat sekali pengaruhnya. Ada beberapa rahasia agar kita menjadi manusia yang ahli bersyukur atas  nikmat Allah.

Pertama : Hati tidak merasa memiliki, tidak merasa dimiliki kecuali yakin segalanya milik Allah Subhanahu wa Ta'ala. Makin kita merasa memiliki sesuatu akan makin takut kehilangan, takut kehilangan adalah suatu bentuk kesengsaraan, tapi kalau kita yakin semuanya milik Allah, maka diambil oleh Allah tidak layak kita merasa kehilangan karena kita merasa tertitipi. Makin merasa rejeki itu milik manusia kita akan merasa berharap kepada manusia dan akan makin sengsara, senikmat-nikmatnya hidup adalah kalau kita tidak berharap kepada mahluk tetapi berharap hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Kedua : Orang yang selalu memuji Allah dalam segala kondisi, susah maupun senang, sebab kalau kita bandingkan antara nikmat dengan musibah tidak akan ada apa-apanya. Musibah yang datang tidak sebanding dengan samudera nikmat yang tiada bertepi, kita menderita karena kita  tamak kepada yang belum ada.

Ketiga : Memanfaatkan nikmat yang ada untuk mendekatkan diri kepada Allah. Alkisah ada tiga pengendara kuda masuk ke dalam hutan belantara karena perjalanan yang sangat melelahkan ketiga penunggang kuda tadi istirahat dan tertidur, ketika bangun kudanya telah hilang semua, betapa kagetnya mereka, kemudian ada seorang raja yang sedang berburu dan melihat kejadian tersebut, kemudian sang raja pulang dan memerintahkan  kepada prajuritnya untuk mengirimkan tiga ekor kuda lengkap dengan perbekalan, ketika menerima kuda dan perbekalan yang lengkap reaksi ketiga orang tersebut berbeda-beda, si-A kaget dan berkomentar "Wah hebat sekali kuda ini, bagus ototnya, bekalnya banyak pula, dia sibuk dengan kuda tanpa bertanya kuda siapakah ini". Si B gembira luar biasa dan berkomentar "Wah ini kuda hebat, sambil berterima kasih kepada yang memberi, sikap C beda lagi, ia berkomentar "Lho ini bukan kuda saya, ini kuda milik siapa? parajurit "Kuda milik sang raja jawab prajurit", si-C bertanya lagi "kenapa raja memberikan kuda ini? dijawab" "Agar engkau mudah bertemu dengan sang raja". Dia gembira bukan karena bagusnya kuda, dia gembira karena kuda dapat memudahkan dia dekat dengan sang raja.

Apa hikmah yang terkandung dalam cerita tersebut ?. Si-A adalah manusia yang kalau mendapatkan nikmat dan kedudukan sibuk dengan yang diperolehnya itu, tanpa sadar bahwa itu adalah titipan. Orang yang paling bodoh adalah orang yang punya dunia tapi dia tidak sadar bahwa itu adalah titipan Allah, yang B mungkin adalah model manusia macam kita, yang ketika senang kita mengucap Alhamdulillah, tapi ketika menerima musibah kita mengeluh, akan tetapi ahli syukur yang sebenarnya adalah manusia ketiga atau C, ketika mendapat nikmat atau rezki dia berpikir bahwa inilah sarana yang dapat menjadi pendekat kepada Allah. Ketika mempunyai uang dia mengucap Alhamdulillah, uang inilah pendekat saya kepada Allah, dia tidak berat untuk membayar zakat, dia ringan untuk bersadaqah, karena tidak akan berkurang harta dengan bersadaqah. Manusia semacam ini sederhana saja rumusnya, yaitu dengan harta yang dimilikinya  untuk berjuang di jalan Allah, jangan heran jika rejeki datang justeru semakin melimpah. Rumah dan perabotnya yang mewah bukan ukuran kenikmatan dan keberkahan dalam berumah tangga, tetapi rumah yang nikmat dan barokah adalah rumah yang menjadi kendaraan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bangunlah rumah yang tidak membuat kita sombong  belilah acessories rumah yang membuat setiap tamu yang datang menjadi dekat kepada Allah, bukan ingat kepada kekayaan kita, pasanglah hiasan yang membuat tamu kita ingat kepada kekuasaan Allah, bukan kekuasaan kita, itulah rumah yang Insya Allah tenang dan barokah. Tapi kalau rumah dipakai untuk pamer dan mengoleksi barang yang amat mewah, potret-potretnya yang tidak membuat ingat kepada Allah, malah ujub, riya takabur tidak menutup kemungkinan rumah tersebut  semakin diminati oleh pencuri. Pemiliknyapun tidak pernah merasa tenang, membuat strees bagi penghuninya, pagar harus tinggi, harus menyediakan alat pengaman yang berupa CCTV dan  alarm, menggaji satpam, di depan harus ada anjing penjaga. Bandingkanlan dengan rumah yang diformat selalu ingat kepada Allah, Insya Allah tidak akan serepot itu.

Mohon maaf kepada saudara-saudaraku yang kaya tidak ada larangan memiliki rumah yang bagus, tapi usahakan setiap orang yang bertamu bukan ingat kepada kekayaan dan kedudukan kita, tetapi ingat kepada kekayaan Allah. Andai kita mempunyai jabatan, lalu bagaimana cara mensyukurinya? gunakanlah jabatan itu agar karyawan kita dekat kepada Allah

Orang yang pandai bersyukur diantaranya adalah orang yang mendidik anaknya supaya dekat dengan Allah, di dunia nama orang tuanya terbawa harum karena anaknya mulia, di kubur lapang kuburnya karena doa anaknya, di akherat Insya Allah akan dapat berkumpul dengan keluarganya sebagaima dalam buletin Ahad lalu.

Keempat : Berterima kasih kepada yang telah memberi jalan nikmat, seorang anak disebut ahli syukur kalau dia tahu balas budi kepada ibu dan bapaknya, dimana-mana anak sholeh itu harum namanya, tapi anak durhaka tidak pernah ada jalan menjadi mulia. Kenapa? karena mereka tidak tahu balas budi. Mungkin orang tua kita tidak seperti yang kita harapkan, orang tua kita jelek, miskin lagi sehingga tidak mampu memenuhi setiap yang kita inginkan, tetapi masalahnya bukan bagaimana sikap orang tua kepada kita, tetapi sikap kita kepada orang tua. Itulah yang harus kita renungkan. Bagaimana sikap kita selama ini dengan orang yang telah membesarkan dan mendidik kita dengan ikhlas?. Jawabannya ada pada diri kita masing-masing.

Jamaah PAP yang dirahmati Allah, Negeri ini adalah titipan dari Allah, bukan milik sesorang  dan bukan milik siapapun, negeri ini tidak ada pemiliknya selain Allah, kita oleh Allah ditakdirkan episodenya hidup di Indonesia ini harus kita syukuri, jangan minder jadi orang Indonesia yang rankingnya luar biasa hebat sebagai negara koruptor, tetapi justru kita harus bangkit untuk tidak korupsi. Penghuni negara ini harus menjadikan Indonesia sebagai ladang untuk mendekatkan diri  kepada Allah. Kebanyakan dari kita hanya mampu berkomentar tentang situasi Negara saat ini,  ada yang perasaannya dongkol, sakit hati dengan para wakilnya,  itu semua tidak akan menyelesaikan masalah tetapi justru akan menambah masalah baru. Yang terpenting adalah kita bisa menjadi bagian solusi yang kita mulai dari diri kita sendiri, daripada kita sibuk membuat masalah atau sebagai pemicu masalah. Yang terpenting adalah kita tetap mensyukuri nikmat dari Allah agar nikmat-nikmat selajutnya  tetap tercurah kepada kita semua.

Mudah-mudahan kita semua menjadi manusia-manusia yang  mampu  selalu menysukuri nikmat dari Allah sekecil apapun. Sehingga Allah akan menambah dengan nikmat-nikmat yang lebih besar kepada kita semua. Amin.

 

kirim ke teman | versi cetak

Berita "Agama" Lainnya