PUASA DAN RAHASIANYA
Jum`at, 21 Agustus 2009 10:41:21 - oleh : admin
PUASA DAN RAHASIANYA
Ketahuilah bahwa dalam puasa itu ada bagian tertentu yang tidak ada dalam ibadah yang lain, yaitu pengaitannya kepada Allah Taala yang telah berifman dalam hadis qudsi yang artinya, "Puasa itu bagiku dan aku memberi balasan dengannya." (HR Bukhari dan Muslim).
Pengaitan ini sudah cukup sebagai bukti tentang kemuliaan puasa, sebagaimana keutamaan baitullah (Kakbah) yang dikaitkan kepada-Nya, dalam firman-Nya, Dan sucikanlah rumah-Ku." (Al-Hajj: 26).
Kelebihan puasa itu dapat dilihat dalam dua makna sebagai berikut.
Puasa termasuk amal yang tersembunyi dan amal batin yang tidak bisa dilihat orang lain sehingga tidak mudah disusupi riya. Puasa sebagai cara untuk menundukkan musuh Allah. Karena, sarana yang dipergunakan musuh adalah sahwat. Sahwat bisa menjadi kuat karena makanan dan minuman. Selagi lahan sahwat tetap subur, maka setan bisa bebas berkeliaran di tempat gembalaan yang subur itu. Tetapi, jika sahwat ditinggalkan, jalan ke sana juga menjadi sempit. Dalam masalah puasa banyak terdapat riwayat yang menunjukkan keutamaannya, dan riwayat-riwayat ini cukup terkenal serta bertebaran di berbagai kitab.
Hal-Hal yang Dianjurkan dalam Puasa
Dianjurkan makan sahur dan mengakhirkannya, segera berbuka puasa dengan makan kurma. Dianjurkan banyak-banyak bersedekah pada bulan Ramadan, melakukan hal-hal yang makruf, dan mengikuti apa yang biasa dilakukan Rasulullah saw. saat beruasa. Selain itu, dianjurkan pula untuk banyak-banyak membaca Alquran, itikaf di masjid pada bulan Ramadan, apalagi pada sepuluh hari yang terakhir dan meningkatkan kesungguhan pada hari-hari ini. Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari hadis Aisyah r.a., dia berkata, "Jika Nabi saw. memasuki sepuluh hari (yang terakhir pada bulan Ramadan), beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan waktu malamnya, dan membangunkan keluarganya."
Ada dua hal yang bisa dipahami dari kebiasaan beliau tersebut di atas.
1. Tidak bercampur dengan istri.
2. Merupakan ungkapan tentang kesungguhan dalam beramal. Para ulama berpendapat bahwa
sebab kesungguhan beliau pada sepuluh hari yang terakhir ini karena hendak mencari Lailatul Qadar.
Rahasia-Rahasia Puasa dan Adab-adabnya
Puasa mempunyai tiga tingkatan makna sebagai berikut.
1. Puasa secara umum ialah menahan perut untuk tidak makan dan minum serta menahan
kemaluan untuk melampiaskan sahwat.
2. Puasa secara khusus ialah menahan pandangan, lidah, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan, dan seluruh anggota tubuh dari dosa.
3. Puasa secara khusus dari yang khusus ialah puasa hati dari hasrat-hasrat yang hina dan pikiran-pikiran yang menjauhkan dari Allah serta menahan diri dari hal-hal selain Allah secara keseluruhan.
Di antara adab puasa secara khusus adalah menahan pandangan mata, menjaga lidah dari ucapan-ucapan yang diharamkan dan dimakruhkan atau dari ucapan yang tidak bermanfaat, serta menjaga seluruh anggota badan. Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa tidak meninggalkan perkatan palsu dan pengamalannya, maka Allah tidak mempunyai keperluan untuk meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya)."
Di antara adab orang yang berpuasa yaitu janganlah memenuhi perutnya dengan makanan pada malam hari. Tetapi, hendaknya dia makan sekadarnya saja. Sebab, tidaklah anak Adam itu mengisi bejana yang lebih buruk daripada perutnya sendiri. Selagi pada petang harinya dia sudah merasa kekenyangan, maka waktu-waktu berikutnya sudah bisa memanfaatkannya. Begitu juga jika terlalu kenyang pada waktu sahur, maka waktunya tidak bisa dimanfaatkan secara optimal hingga mendekati waktu zuhur. Sebab, terlalu banyak makan hanya akan mengakibatkan malas dan lemas hingga hilanglah tujuan puasa gara-gara terlalu banyak makan. Sebab, tujuan dari puasa ialah agar dia merasakan lapar dan meninggalkan hal-hal yang menggugah selera.
Adapun puasa sunah dikerjakan pada hari-hari yang memiliki keutamaan, yang putarannya berlaku untuk setiap satu tahun, seperti puasa Asyura, sepuluh Zulhijah, dll. Sebagian ada yang putarannya sebulan, seperti puasa tiga hari setiap bulan, bisa sehari pada permulaan bulan, sehari pada pertengahan bulan dan sehari pada akhir bulan. Tetapi, yang paling baik adalah pada ayamul-bidh (tgl 13, 14, 15). Sebagian lagi putarannya setiap minggu, seperti puasa Senin dan Kamis.
Puasa sunah yang paling baik adalah puasa Nabi Daud a.s., yaitu sehari puasa sehari buka. Puasa Daud ini mengandung makna. Memberikan hak kepada diri pada saat tidak berpuasa, lalu memberikan hak ubudiyah kepadanya pada saat berpuasa. Sehingga, di sini ada penyatuan antara hak dan kewajibannya, dan ini merupakan cermin keadilan.
Saat tidak berpuasa merupakan hari syukur, dan saat puasa merupakan hari sabar. Karena, iman itu terdiri dari dua bagian: syukur dan sabar. Tentunya puasa ini akan membuat jiwa terasa lebih berat dalam mujahadah.
Adab Puasa yang Khusus
Orang yang diberi kecerdasan akal tentu bisa mengetahui apa maksud dari puasa. Karena itu, kecerdasan dan pengetahuannya ini akan mendorongnya untuk membebani diri sendiri dengan amalan yang tidak membuatnya lemah, lalu meninggalkan apa-apa yang sebenarnya lebih utama.
Ibnu Mas'ud r.a. adalah orang yang tidak banyak puasa. Dia berkata, "Jika aku berpuasa, maka badanku menjadi lemah dan tidak kuat mendirikan salat. Sementara, aku lebih memilih salat daripada puasa."
Ada pula yang jika berpuasa membuat badannya lemah sehingga tidak bisa membaca Alquran. Karena itu, dia lebih sering tidak berpuasa agar bisa banyak-banyak membaca Alquran. Setiap orang tentu lebih mengetahui keadaan dirinya.
Semoga puasa pada tahun ini merupakan puasa yang terbaik bagi seluruh anggota keluarga kita, dan bagi seluruh saudara-saudara sesama muslim. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga seluruh amal perbuatan baik kita selama diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amien.
Sumber: Minhajul Qashidin: Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk terjemahan dari Mukhtasyar Minhajul Qashidin, Al-Imam asy-Syekh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisy
Oleh : Tim Buletin SMA MUHA
Berita "Agama" Lainnya
PUASA DAN RAHASIANYA
Ketahuilah bahwa dalam puasa itu ada bagian tertentu yang tidak ada dalam ibadah yang lain, yaitu pengaitannya kepada Allah Taala yang telah berifman dalam hadis qudsi yang artinya, "Puasa itu bagiku dan aku memberi balasan dengannya." (HR Bukhari dan Muslim).
Pengaitan ini sudah cukup sebagai bukti tentang kemuliaan puasa, sebagaimana keutamaan baitullah (Kakbah) yang dikaitkan kepada-Nya, dalam firman-Nya, Dan sucikanlah rumah-Ku." (Al-Hajj: 26).
Kelebihan puasa itu dapat dilihat dalam dua makna sebagai berikut.
Puasa termasuk amal yang tersembunyi dan amal batin yang tidak bisa dilihat orang lain sehingga tidak mudah disusupi riya. Puasa sebagai cara untuk menundukkan musuh Allah. Karena, sarana yang dipergunakan musuh adalah sahwat. Sahwat bisa menjadi kuat karena makanan dan minuman. Selagi lahan sahwat tetap subur, maka setan bisa bebas berkeliaran di tempat gembalaan yang subur itu. Tetapi, jika sahwat ditinggalkan, jalan ke sana juga menjadi sempit. Dalam masalah puasa banyak terdapat riwayat yang menunjukkan keutamaannya, dan riwayat-riwayat ini cukup terkenal serta bertebaran di berbagai kitab.
Hal-Hal yang Dianjurkan dalam Puasa
Dianjurkan makan sahur dan mengakhirkannya, segera berbuka puasa dengan makan kurma. Dianjurkan banyak-banyak bersedekah pada bulan Ramadan, melakukan hal-hal yang makruf, dan mengikuti apa yang biasa dilakukan Rasulullah saw. saat beruasa. Selain itu, dianjurkan pula untuk banyak-banyak membaca Alquran, itikaf di masjid pada bulan Ramadan, apalagi pada sepuluh hari yang terakhir dan meningkatkan kesungguhan pada hari-hari ini. Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari hadis Aisyah r.a., dia berkata, "Jika Nabi saw. memasuki sepuluh hari (yang terakhir pada bulan Ramadan), beliau mengencangkan kainnya, menghidupkan waktu malamnya, dan membangunkan keluarganya."
Ada dua hal yang bisa dipahami dari kebiasaan beliau tersebut di atas.
1. Tidak bercampur dengan istri.
2. Merupakan ungkapan tentang kesungguhan dalam beramal. Para ulama berpendapat bahwa
sebab kesungguhan beliau pada sepuluh hari yang terakhir ini karena hendak mencari Lailatul Qadar.
Rahasia-Rahasia Puasa dan Adab-adabnya
Puasa mempunyai tiga tingkatan makna sebagai berikut.
1. Puasa secara umum ialah menahan perut untuk tidak makan dan minum serta menahan
kemaluan untuk melampiaskan sahwat.
2. Puasa secara khusus ialah menahan pandangan, lidah, tangan, kaki, pendengaran, penglihatan, dan seluruh anggota tubuh dari dosa.
3. Puasa secara khusus dari yang khusus ialah puasa hati dari hasrat-hasrat yang hina dan pikiran-pikiran yang menjauhkan dari Allah serta menahan diri dari hal-hal selain Allah secara keseluruhan.
Di antara adab puasa secara khusus adalah menahan pandangan mata, menjaga lidah dari ucapan-ucapan yang diharamkan dan dimakruhkan atau dari ucapan yang tidak bermanfaat, serta menjaga seluruh anggota badan. Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa tidak meninggalkan perkatan palsu dan pengamalannya, maka Allah tidak mempunyai keperluan untuk meninggalkan makanan dan minumannya (puasanya)."
Di antara adab orang yang berpuasa yaitu janganlah memenuhi perutnya dengan makanan pada malam hari. Tetapi, hendaknya dia makan sekadarnya saja. Sebab, tidaklah anak Adam itu mengisi bejana yang lebih buruk daripada perutnya sendiri. Selagi pada petang harinya dia sudah merasa kekenyangan, maka waktu-waktu berikutnya sudah bisa memanfaatkannya. Begitu juga jika terlalu kenyang pada waktu sahur, maka waktunya tidak bisa dimanfaatkan secara optimal hingga mendekati waktu zuhur. Sebab, terlalu banyak makan hanya akan mengakibatkan malas dan lemas hingga hilanglah tujuan puasa gara-gara terlalu banyak makan. Sebab, tujuan dari puasa ialah agar dia merasakan lapar dan meninggalkan hal-hal yang menggugah selera.
Adapun puasa sunah dikerjakan pada hari-hari yang memiliki keutamaan, yang putarannya berlaku untuk setiap satu tahun, seperti puasa Asyura, sepuluh Zulhijah, dll. Sebagian ada yang putarannya sebulan, seperti puasa tiga hari setiap bulan, bisa sehari pada permulaan bulan, sehari pada pertengahan bulan dan sehari pada akhir bulan. Tetapi, yang paling baik adalah pada ayamul-bidh (tgl 13, 14, 15). Sebagian lagi putarannya setiap minggu, seperti puasa Senin dan Kamis.
Puasa sunah yang paling baik adalah puasa Nabi Daud a.s., yaitu sehari puasa sehari buka. Puasa Daud ini mengandung makna. Memberikan hak kepada diri pada saat tidak berpuasa, lalu memberikan hak ubudiyah kepadanya pada saat berpuasa. Sehingga, di sini ada penyatuan antara hak dan kewajibannya, dan ini merupakan cermin keadilan.
Saat tidak berpuasa merupakan hari syukur, dan saat puasa merupakan hari sabar. Karena, iman itu terdiri dari dua bagian: syukur dan sabar. Tentunya puasa ini akan membuat jiwa terasa lebih berat dalam mujahadah.
Adab Puasa yang Khusus
Orang yang diberi kecerdasan akal tentu bisa mengetahui apa maksud dari puasa. Karena itu, kecerdasan dan pengetahuannya ini akan mendorongnya untuk membebani diri sendiri dengan amalan yang tidak membuatnya lemah, lalu meninggalkan apa-apa yang sebenarnya lebih utama.
Ibnu Mas'ud r.a. adalah orang yang tidak banyak puasa. Dia berkata, "Jika aku berpuasa, maka badanku menjadi lemah dan tidak kuat mendirikan salat. Sementara, aku lebih memilih salat daripada puasa."
Ada pula yang jika berpuasa membuat badannya lemah sehingga tidak bisa membaca Alquran. Karena itu, dia lebih sering tidak berpuasa agar bisa banyak-banyak membaca Alquran. Setiap orang tentu lebih mengetahui keadaan dirinya.
Semoga puasa pada tahun ini merupakan puasa yang terbaik bagi seluruh anggota keluarga kita, dan bagi seluruh saudara-saudara sesama muslim. Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga seluruh amal perbuatan baik kita selama diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Amien.
Sumber: Minhajul Qashidin: Jalan Orang-Orang yang Mendapat Petunjuk terjemahan dari Mukhtasyar Minhajul Qashidin, Al-Imam asy-Syekh Ahmad bin Abdurrahman bin Qudamah al-Maqdisy
Oleh : Tim Buletin SMA MUHA

Home
Kontak Kami
Link Web
